Selamat datang di Kalipagu.com

Kami mencoba membantu anda untuk berbagi tips maupun informasi wisata di kawasan Baturraden terutama pada Dusun Kalipagu
  • Guide

    • Jasa Guide/ Pemandu wisata dari warga lokal

Beras Hitam Kalipagu





Beras hitam kalipagu merupakan hasil bumi (pertanian) yang dari dulu memang terus di budidayakan oleh warga Dusun Kalipagu, hal ini tidak terlepas dari kondisi permukaan tanah yang subur dan air yang melimpah di Desa kami.

Beras hitam kini mulai banyak diminati oleh kalangan masyarakat terutama seseorang yang sedang program diet karena memiliki kandungan kadar gula yang rendah sama seperti beras merah. Adapun beberapa manfaat lain dari beras hitam, berikut ulasannya.

1. Melancarkan  Pencernaan
Kandungan protein dari beras hitam memang lebih rendah dibandingkan dengan beras putih, akan tetapi beras ini memiliki kandungan serat dan protein yang lebih tinggi dibandingkan dengan beras jenis lainnya.

Serat dapat membantu meningkatkan aktivitas gerak pada usus dan dapat membantu meringankan sembelit.

Serat dalam dosis yang tinggi dapat membantu untuk mencegah penyerapan zat-zat beracun dan membilasnya keluar dari tubuh anda.

Juga perlu diingat bahwa studi telah menemukan diet tinggi makanan berserat dari varietas padi dan gandum terbukti melindungi terhadap gangguan pencernaan seperti irritable bowel syndrome (IBS).

2. Pencegah penyakit jantung dan kanker
Sudah bukan rahasia lagi bahwa beras yang memiliki warna hitam ini merupakan beras dengan kandungan antioksidan tertinggi dibandingkan dengan jenis lainnya.

Menurut salah seorang professor tekonologi pangan di Louisiana State University (Zhimin Xu), untuk satu sendok nasi hitam di dalamnya mengandung antioksidan, serat, serta vitamin E yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan buah blueberry dalam kadar jumlah yang sama.

Buah Blueberry merupakan buah yang memiliki kadar antioksidan paling tinggi dibandingkan dengan 40 (empat puluh) jenis buah dan sayuran jenis lainnya.

3.Tambahan Vitamin dan mineral untuk tubuh
Beras hitam juga kaya sekali akan vitamin E, B1, B2, B3, dan B6, serta zinc, magnesium, dan fosfor. Vitamin B kompleks. Semua itu dapat membantu tubuh untuk melepaskan energi dan mengolah energi secara efektif saat beraktivitas seharian,

Sementara kandungan magnesium dan zat besi mampu membantu memerangi sindrom 3L yaitu letih, lelah, dan lesu.

4. Program Diet
Mengkonsumsi beras hitam sebagai salah satu cara untuk menurunkan berat badan merupakan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan beras merah.

Terdapat sekitar delapan puluh lima gram beras hitam terdiri dari 43 gram karbohidrat, 200 kcal, 6 gram protein, 3 gram serat, dan 2 gram lemak. Tekstur yang lebih padat dan juga lebih kaya akan serat namun rendah kalori hal tersebut membuat Anda akan merasa kenyang lebih lama.

Selain itu, beras ini membantu Anda untuk mengontrol asupan kalori berlebih sehingga dapat melindungi terhadap kegemukan atau nobesitas dalam jangka waktu panjang.

5. Meningkatkan fungsi otak
Selain memiliki fungsi sebagai pelindung segala penyakit, beras hitam juga dapat untuk meningkatkan ketajaman memori dan fungsi kognitif otak, serta dapat memerangi stres oksidatif dalam tubuh.

Stres oksidatif merupakan salah satu gangguan otak yang akan menyebabkan penurunan memori dan peradangan dalam otak.

6. Mencegah Diabetes
Karena nasi hitam memiliki kandungan serat 3,5 kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan nasi putih, hal ini mengakibatkan nasi hitam membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna di dalam tubuh.

Akan tetapi hal Ini malah akan memiliki efek perlindungan pada sistem pencernaan dalam tubuh sekaligus dapat mempertahankan angka gula darah agar tetap konstan. Selain sebagai mengelola diabetes mengkonsumsi nasi hitam secara rutin juga akan membantu diet Anda saat melakukan program diet.

Nasi hitam memiliki indeks glikemik (GI) yang lebih rendah, yaitu 42,3 dibandingkan dengan nasi putih yang memiliki angka GI = 89.

Diet rendah glikemik (GI) akan meningkatkan sensitivitas pada tubuh terhadap insulin, hal tersebut yang dapat meningkatkan kontrol diabetes, bahkan dapat mengurangi risiko penyakit jantung.


Nah, itulah beberapa macam manfaat jika anda mengkonsumsi nasi hitam untuk sehari hari secara rutin sebagai pola hidup sehat. Bagi Anda yang membutuhkan beras hitam untuk di konsumsi sehari hari, bisa langsung mendapatkannya di dusun kalipagu di rumah Bapak Tri Sumarko, atau jika ingin memesannya bias melalui 08817697751

x
Share:

Caping Park Purwokerto, Wisata tempat bermain, berlibur, dan belajar



Ada lagi nih, tempat wisata yang masih cukup anyar alias belum lama didirikan (caping park) merupakan salah satu objek wisata di Baturraden yang mengedepankan area wisata sebagai tempat bermain, berlibur, dan belajar.

Bertempat di kawasan Kecamatan Baturraden tepatnya di Desa Karang Tengah grumbul Manisan (samping Al Irsyad Boarding School Purwokerto). Jika diperkirakan dari arah purwokerto kamu hanya akan membutuhkan waktu kiranya 25 menit perjalanan kendaraan.




Memiliki udara sejuk dan pemandangan yang indah karena dari tempat ini kamu dapat melihat seluruh kawasan purwokerto, purbalingga dan sekitarnya.

Tidak hanya pemandangan yang indah, caping park juga menyuguhkan area spot foto selvie diantaranya yaitu jembatan kaca yang menjadi salah satu icon nya yang memiliki ketinggian 27 meter dan dilapisi tiga lapisan kaca tempered yang pastinya aman dan nyaman buat kamu semua saat berfoto.



Selain itu adapun property spot foto berupa kayu pelangi yang melingkar.tiruan baon udara, sayap merpati, bulan sabit dari kayu, ayunan selvie, timbangan selvie, ketapel buatan, dan masih banyak lagi.

Pastinya akan membuat kamu semua kan semakin betah untuk berlama-lama berwisata di caping park untuk berwisata.

Ooo iya, aneka wisata kuliner juga ada disini berbagai macam varian yang bisa kalian coba seperti Nasi Ayam Kluyuk, Mie Nasi Goreng Spesial Seafood, Mie Kuah, Mie Goreng, Oseng mercon Ma'legh, dan masih banyak lagi.




Objek wisata ini di buka mulai pukul 08.00 – 18.00, dengan harga tiket juga cukup terjangkau yaitu untuk hari biasa ( Senin – Jum’at) berkisar Rp. 20.000, sedangkan untuk akhir pekan atau hari libur maka akan dikenakan biaya sebesar Rp. 25.000.

Perlu di ingat bahwa harga tiket tersebut sewaktu waktu bisa berubah maka dari itu untuk info lebih lanjut kamu bisa menghubungi admin atau operator resminya di nomor WA 081225796606.

Jam Operasional
08.00 – 18.00 
Harga tiket
Senin – Jum’at
Rp. 20.000
Akhir Pekan / Hari Libur
Rp. 25.000




Share:

Asal usul cerita sejarah Baturraden



Baturraden merupakan salah satu nama dari Kecamatan di Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah yang memang sudah tidak asing lagi terdengar oleh wisatawan masyarakat Indonesia maupun Mancanegara.

Baturraden juga merupakan salah satu ikon Kabupaten Banyumas dan juga sebagai obyek pariwisata utama atau andalan di Kabupaten Banyumas yang dikelola langsung oleh Pemerintah Daerah kab. Banyumas.

Berada di lereng kaki Gunung Slamet dengan suhu udara rata-rata antara 18°C sampai 25°C setiap harinya membuat ikon wisata Kab. Banyumas ini dikenal sebagai obyek wisata pegunungan sejak tahun 1928.

Nama Baturraden merupakan susunan nama yang berasal dari kata (bahasa jawa) yaitu Batur dan Raden, secara bahasa “Batur” memiliki arti pembantu, teman, atau bukit. Sedangkan “Raden” secara bahasa yaitu seorang bangsawan (tanah jawa).

Nah, berbicara tentang sejarah asal muasal bagaimana bisa dinamakan dengan nama Baturraden, sebenarnya ada 2 (dua) maca versi cerita, yaitu dari Kadipaten Kutaliman dan versi Syekh Maulana Maghribi. Berikut adalah ulasannya.

Kadipaten Kutaliman

Versi yang pertama merupakan sebuah cerita dari
Kadipaten Kutaliman. Pada zaman kerajaan tanah jawa dahulu konon ada sebuah Kadipaten “Kutaliman” yang letaknya kurang lebih 10 km disebelah Barat Baturraden.

Pada saat itu sang Raja dari Kadipaten Kutaliman mempunyai anak tunggal perempuan yang sangat cantik, akan tetapi sang putri malah jatuh cinta terhadap seorang pemuda yang bekerja sebagai pembantu (perawat kuda).

Keduanya pun menjalin hubungan secara sembunyi-sembuyi tanpa ada seorangpun yang mengetahuinya. Selang beberapa waktu berita tersebut diketahui oleh sang raja dan bahkan hingga rakyat-rakyatnya.

Mengetahui bahwasanya putrinya jatuh cinta kepada pembantunnya, lantas membuat sang raja menjadi sangat marah dan murka. Kedua pasangan tersebut lalu memutuskan untuk melarikan diri dari Kadipaten Kutaliman kemudian menikah tanpa sepengetahuan dan restu dari sang raja.

Selang beberapa tahun, akhirnya kedua pasangan tersebut melahirkan seorang anak, namun setelah sang putri raja belum lama melahirkan, sang raja kemudian mencoba untuk membawa pulang putrinya dengan membawa pasukannya.

Akan tetapi sang putri menolaknya begitu pula dengan suaminya (pemuda perawat kuda), karena sang raja terus memaksa, hal itu kemudian memicu pertempuran antara pemuda tersebut dengan sang raja dan pasukan kerajaan.

Tapi naas, sang pemuda tersebut malah tertusuk keris sang raja hingga akhirnya meninggal dunia. Tidak sanggup melihat suaminya terbunuh, sang putri langsung mengambil keris dan menancapkannya ke tubuhnya.

Melihat hal itu, raja menjadi sangat marah dan membunuh keturunan mereka kemudian dimakamkan di lereng Gunung Slamet. begitulah asal usul namaa “Baturraden”. Batur yang berarti pembantu, dan raden berarti bangsawan dari kerajaan.



Syekh Maulana Maghribi

Alkisah pada zaman dahulu di Negara Rum, bertahta seorang Pangeran Muslim bernama Syekh Maulana Maghribi berasal dari Turki dan beliau juga merupakan seorang ulama.

Pada suatu waktu fajar setelah beliau selesai melaksanakan shalat terlihatlah oleh mata beliau sebercak cahaya terang misterius yang bersinar disebelah timur menjulang tinggi di langit.

Hal tersebut membuat Syekh Maulana Maghribi menjadi sangat penasaran dan ingin mengetahui dari mana cahaya terang misterius itu datang dan muncullah niat dan itikad yang sangat kuat di dalam hatinya untuk mencari tempat munculnya cahaya tersebut.

Singkat cerita Syekh Maulana Maghribi berlayar berangkat menuju ke arah cahaya tersebut bersama sahabatnya yaitu Haji Datuk dan juga membawa pengikutnya yang berjumlah 298 (dengan dua ratus sembilan puluh delapan).

Kemudian pada suatu ketika sampailah mereka di sebuah pulau ujung timur yang bernama Pulau Jawa. Adapun tempat dimana mereka membuang sauh dewasa tersebut sekarang ini dikenal dengan sebutan Pantai Gresik.

Meskipun mereka telah menempuh perjalanan tersebut dengan berbagai kesulitan dan penderitaan, serta banyak menghadapi bermacam-macam marabahaya, akan tetapi mereka tetap belum mencapai apa yang menjadi cita-cita atau tujuannya. Karena cahaya terang misterius tersebut masih tampak disebelah barat.

Pada suatu waktu terlihat kembali cahaya terang yang sedang dicarinya itu disebelah barat dan mereka mengambil keputusan kembali karah barat dengan menempuh jalan di laut Jawa di pantai Pemalang Jawa Tangah.

Ditempat inilah Syekh Maulana Maghribi meminta kepada para armadanya untuk pulang ke negerinya, sedangkan Syekh Maulana Maghribi ditemani oleh Haji Datuk dan untuk sementara bermukim ditempat itu.

Dengan ketetapan hati yang tetap teguh kemudian dilanjutkanlah perjalanannya dengan jalan kaki menuju kearah Selatan sambil berdakwah dan menyebarkan agama Islam kepada masyarakat tanah jawa.

Mulai dari Pemalang mereka menuju ke selatan kemudian menyusuri hutan belantara tanpa mengenal rasa takut akan bahaya yang dihadapinya, beliau tetap mengikuti arah sinar cahaya misterius yang sekarang terlihat kembali di Timur Laut.

Pada akhirnya beliau berhenti untuk istirahat sejenak untuk memulihkan tenaga, dan sambil merenungi tentang perjalanan yang telah dilaluinya selama perjalanan.

Tempat dimana mereka saat beristirahat dengan diliputi pikiran-pikiran (gagasan-gagasan) dan perasaan-perasaan yang memenuhi hati sanubarinya diberi nama ‘Paduraksa’ yang artinya bertengkar didalam kalbu atau rasa.

Dari tempat itu mereka meneruskan perjalanannya ke selatan lagi dan sampailah mereka di hutan belukar dan untuk melepaskan lelahnya mereka singgah diatas tonggak randu yang tumbang dan tempat tersebut mereka beri nama ‘Randudongkal’.

Dari tempat peristirahatannya itu, cahaya terang masih kelihatan ada di timur laut, dan mereka meneruskan perjalanannya menuju arah cahaya tadi.

Sebelum mereka sampai ketempat yang menjadi tujuannya mereka berhenti untuk beristirahat di dekat Sendang (kolam) untuk melakukan ibadah Sholat, dan sesudahnya tempat tersebut diberi nama “Belik”.

Setelah melaksanakan Sholat, maka perjalanan kembali diteruskan kearah timur dan sampailah disuatu tempat, dimana terdapat banyak batu-batuan

Di tempat tersebut mereka beristirahat lagi sambil memikirkan bagaimana cara mereka dapat menjangkau tempat kedudukan cahaya yang dicarinya, karena cahaya terang tersebut terlihat ada dipuncak Gunung.

Tempat dimana mereka beristirahat dan terdapat banyak batu-batuan itu diberi nama “Watu Kumpul”. Karena tekadnya yang kuat, pendakian itu dilakukan hingga akhirnya sampailah mereka di tempat yang dituju.

Terlihat oleh mereka seorang pertapa yang menyandarkan dirinya pada sebatang pohon jambu yang mengeluarkan sinar yang bercahaya menjulang tinggi ke angkasa

Perlahan-lahan Syekh Maulana Maghribi dan Haji Datuk menuju mendekati tempat tersebut sambil mengucapkan salam “Assalamu’alaikum”, akan tetapi tidak dijawabnya oleh si petapa meskipun berulangkali diucapkan.

Setelah ternyata salamnya tidak mendapat jawaban, maka Haji Datuk berkata pada Syekh Maulana Maghribi “Kiranya pertapa itu adalah seorang Budha”.

Mendengar perkataan tersebut, si petapa itu lalu menjawab “Sesungguhnya saya ini adalah orang Budha yang Sakti”.

Mendengar kata-kata sakti maka Syekh Maulana Maghribi meminta kepada pemeluk agama Budha tadi, bahwa beliau ingin melihat atau menyaksikan kesaktiannya,maka diambillah tutup kepalanya yang berupa kopiah itu dapat terbang di angkasa.

Syekh Maulana Maghribi kemudian mencoba melepaskan bajunya dan melemparkan keatas, ternyata baju tersebut dapat terbang di udara dan selalu menutupi kopiah si pertapa yang menandakan bahwa kesaktiannya lebih unggul dari kesaktian orang Budha tersebut.

Akan tetapi beliau belum mau menyerah dan masih akan mempertontonkan lagi kepandaiannya yang berujud menyusun telur setinggi langit.

Melihat keadaan tersebut diatas Syekh Maulana Maghribi merasa heran, namun demikian ia tidak mau dikalahkan begitu saja, maka dengan tenangnya diperintahkan kepada si pertapa agar ia mau mengambil telur itu satu persatu dari bawah tanpa ada yang jatuh.

Ternyata pertapa itu tidak sanggup melakukannya. Karena si pertapa sudah benar-benar tidak melakukannya hal tersebut, maka Syekh Maulana Maghribi mengambil tumpukan telur tadi dimulai dari bawah sampai selesai dengan tidak ada satupun yang jatuh.

Syekh Maulana Maghribi masih merasa belum puas dan masih meneruskan perjuangannya sekali lagi dengan memperlihatkan pemupukan periuk-periuk berisi air sampai menjulng tinggi.

Kemudian Syekh Maulana Maghribi berkata “Ambillah periuk-periuk itu satu demi satu dari bawah tanpa ada yang berjatuhan’.

Setelah ternyata tidak ada kesanggupan daari si pertapa, maka beliau sendirilah yang melakukannya dan periuk yang terakhir itu pecah dan airnya memancar kesegala penjuru.

Akhirnya si pertapa yang mengaku bernama “Jambu Karang” (nama tersebut berasal dari pohon sandarannya, yaitu sebatang pohon jambu dimana disekelilingnya terdapat batu-batuan) menyerah kalah serta berjanji akan memeluk agama Islam.

Janji tersebut diterima oleh Syekh Maulana Maghribi dan Jambu Karang diperintahkan untuk memotong rambut dan kukunya dan selnjutnya dikubur di ‘Penungkulan’ (tempat dimana si pertapa menyerah kalah).

Kemudian dilakukan upacara penyucian dengan air zam-zam yng dibawa oleh Haji Datuk dari Tanah Suci atas perintah Syekh Maulana Maghribi dengan mempergunakan tempat dari bambu (bumbung).

Setelah upacara penyucian selesai, bumbung berisikan sisa air disandarkan pada pohon waru, tetap karena kurang cermat menyandarkannya maka robohlah bumbung tadi dan pecah sehingga air sisa tersebut berhamburan dan di tempat tersebut konon kabarnya menjadi mata air yang tidak mengenal kering dimusim kemarau.

Setelah pertapa disucikan menjadi pemeluk agama Islam, maka namanya diubah menjadi ‘Syekh Jambu Karang”. Kemudian Syekh Jambu Karang akan mendapatkan wejangan (bai’at), beliau menunjukkan suatu tempat yang serasi dan cocok untuk upacara bai’at tersebut yaitu diatas bukit ‘Kraton’.

Sesaat setelah Syekh Jambu Karang menerima wejangan, turun hujan lebat disertai dengan angin ribut yang mengakibatkan pohon-pohon disekeliling tempat itu menundukkan dahan-dahannya seperti sedang menghormati Gunung Kraton yaitu tempat dimana Syekh Maulana Maghribi sedang memberikan wejangan (membai’at) Syekh Jambu Karang menjadi seorang Muslim.

Menurut hikayatnya, Syekh Jambu Karang mempunyai seorang putri bernama "Rubiah Bhakti” yang dipersunting oleh Syekh Maulana Maghribi, setelah Syekh Jambu Karang menjadi seorang Muslim dengan mas kawin berupa mas merah setanah Jawa. Setelah memperistrikan putri Syekh Jambu Karang, Syekh Maulana Maghribi berganti nama menjadi “Atas Angin”.

Dari perkawinannya tersebut menurunkan lima orang putera dan puteri, yaitu Makdum Kusen (Makam di Rajawana), Makdum Medem (Makam di Cirebon), Makdum Umar (Makam di arimun Jawa), Makdum (yang menghilang atau murca), dan Makdum Sekar (Makam di Gunung Jembangan).

Adapun Syekh Jambu Karang tetap bermukim di Gunung Kraton, dan setelah wafat dimakamkan ditempat itu pula dan tempat pemakamannya disebut ‘Gunung Munggul’ (puncak yang tertinggi didaerah itu).

Syekh Maulana Maghribi yang terkenal dengan “Mbah Atas Angin” selama empat puluh lima tahun bermukim disuatu tempat atau pedukuhan yang bernama “Banjar Cahayana” (mungkin tempat tersebut didiami setelah menemukan cahayanya).

Di tempat tersebut Mbah Atas Angin menderita penyakit gatal-gatal yang susah disembuhkan. Hal ini menimbulkan keprihatinan disertai dengan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa supaya diberi rahmat serta berkah terhindar dari penyakitnya itu.

Sesudah sholat Tahajud.dia mendapat Ilham bahwa dia harus pergi ke Gunung “Gora” dimana ia akan mendapatkan obat mujarab untuk menyembuhkan penyakitnya itu. Kemudian pagi-pagi waktu Shubuh Mbah Atas Angin bersama Haji Datuk pergi kearah barat dan pada siang hari sampailah mereka dilereng Gunung Gora.

Sesudah sampai di lereng Gunung Gora beliau meminta Haji Datuk untuk meninggalkannya dan beristirahat sambil menunggu di tempat yang datar, sebab Mbah Atas Angin akan meneruskan perjalanannya kearah suatu tempat yang mengepulkan asap.

Ternyata disitu ada sumber air panas dan Syekh Maulana Maghribi menyebutnya “Pancuran Pitu” yang artinya sebuah sumber air panas yang mempunyai tujuh mata air.

Setiap hari Syekh Maulana Maghribi mandi secara teratur di tempat itu, dengan begitu dia sembuh dari penyakit gatalnya. Sesudahnya beliau memanjatkan do’a syukur kehadirat Illahi serta mengucap syukur bahwasanya ia telah dikaruniai sembuh dari sakitnya yang telah sangat lama dideritanya.

Setelah beliau kembali ketempat dimana Haji Datuk menunggu,dan berkata “Saksikanlah, saya sekarang telah sembuh dari sakitku dan telah terhindar dari penderitaan”.

Selanjutnya beliau mengganti nama Gunung Gora itu menjadi “Gunung Slamet”. Slamet dalam bahasa Jawa berarti aman. Selama Syekh Maulana Maghribi berobat di Pancuran Pitu, Haji Datuk tetap dan taat menunggu ditempat yang ditunjuk semula dan kepadanya diberi julukan ‘Haji Datuk Rusuladi’.

Rusuladi artinya “Batur Yang Baik” (Adi). Dan konon kabarnya tempat tersebut oleh penduduk sekitarnya hingga kini disebut dengan “BATURRADEN”.

Share:

Ikuti Saya

Blog Archive