Cerita Legenda - Asal Usul Dusun Kalipagu



Alkisah pada masa pemerintahan kerajaan Majapahit sekitar abad ke-13, tersebutlah seorang pemuda bernama Raden Joko Gamel. Dikisahkan Raden Joko Gamel diiringi beberapa punakawannya tengah melakukan perjalanan spiritual untuk medekatkan ke diri kepada sang maha Pencipta. 

Dalam perjalan itu, akhirnya beliau sampai disuatu tempat yaitu lereng Gunung Slamet bagian selatan. Ditempat itu pula Raden Joko Gamel bertemu dengan Eyang Suma Wijaya dan Eyang Reksa Dewangga, dimana tempat itu dikenal dengan nama Lemah Wangi. Kemudian beliau melakukan tapa brata dan mendapat wangsit untuk membuka sebuah padukuhan.

Lantas Raden Joko Gamel meminta kepada Eyang Suma Wijaya dan Eyang Reksa Dewangga untuk melaksanakan pembukaan padukuhan. Sesuai dengan wangsit yang diterima, maka pilihan jatuh di lembah Pandelem (Muntuk), pada hari Jum’at Manis (Sukro Maheswara) bulan jumadilakhir, tahun ke-6 (Subuloh).

Bertepatan pula dengan perhitungan tahun Sitra Phanu. Jatuhnya hari pembukaan lahan padukuhan tersebut, dapat dimaknai sebagai berikut : Jum’at Manis (Sukro mahaswara) bermakna lakuning geni gede (Matahari). Maksudnya adalah sebuah keinginan atau semangat memujudkan tujuan hidup.

Singkat cerita maka berdirilah sebuah padukuhan yang diberi nama Padukuhan Paguran. Berdasarkan nama tersebut, pagu berartu penetapan dan guran berarti perjalanan hidup, sehingga nama Paguran bermakna sebuah penetapan/ketetapan perjalanan hidup, yaitu untuk senantiasa bersemangat dalam berfikir, bertindak, berjuang mengikuti laku jantaraning alam (sinergi dengan alam), untuk melaksanakan perintah Tuham Yang Maha Kuasa.

Tahub demi tahun datang silih berganti, Padukuhan Paguranpun semakin berkembang. Raden Joko Gamel yang kemudian berjuluk Eyang Reksa jati, lantas menikah Dewi Kemuning. Dari pernikahan itu mereka mempunyai beberapa orang putra, yaitu Eyang Buyut dan Eyang Taliwangsa (berada di Depok, Melung) Eyang Reksapraya (Kalikesur), Syekh Abdulrrahman/Kyai Melung (Melung) dan Eyang Surya Kencana (Baturraden).

Malang tak dapat ditolak, untung tak bisa diraih, hal yang tak diinginkan pun terjadi. Syahdan, turunlah hujan dan badai selama berhari hari, sehingga suatu malam terjadilah tanah longsor dan banjir bandang dari Curug Ciangin yang melanda dan Menutup Padukuhan Paguran.Alkisah Syekh Walahudin Salmat (Mbah kyai Kepras) dari Demak Bintaro, yang masih sepupu dengan kanjeng KaliJaga, melakukan perjalanan dakwah untuk menyebarkan agama islam dari daerah satu kedaerah lainnya. Dalam perjalanannya, samapailah beliau di Purbalingga.

Ketika sedang bermujanat kepada Allah SWT, beliau mendapat petunjuk untuk segera melanjutkan perjalanan ke arah barat. Maka sampailah beliau di Padukuhan Paguran yang ternyata masyarakatnya sedang berduka karena pemukimannya dilanda bencana alam.

Para tokoh Padukuhan Paguran, yaitu Eyang Reksa Jati, Eyang Suma Wijaya dan Eyang Reksa Dewangga, bersama Mbah Kyai Kepras mengadakan musyawarah untuk mengatasi bencara tersebut. Musyawarah tersebut menghasilkan kesepakatan bahwa Padukuhan Paguran harus dipindah ke selatan. Maka segera dilaksanakan persiapan untuk membuat sebuah pemukiman baru.

Bukan perkarah mudah untuk membuka pemukiman baru, karena ternyatanya disana terdapat penguasa dari bangsa danyang, yaitu Ki Dadap dengan kekuatan putih dan Ki Samber Nyawa dengan kekuatan hitam . mereka mempunyai kekuatan dahsyat menguasai wilayah tersebut dan selalu bermusuhan.

Demi melaksanakan pembukaan pemukiman, maka Mbah Kyai Kepras, Eyang Reksa Jati dan rekan-rekannya bersinergi dengan Ki Dadap selama berhari hari, berperang melawan KI Samber Nyawa. Akhirnya Ki Samber Nyawa menyingkir ke sebelah barat daya yaitu di Braja Waringin (Peler), dan tetap akan mengganggu/ menggoda manusia dengan imingh iming memberi pesugihan, kekuatan lahir yang dayat kepada siapapun yang menjadi pengikutnya (Menyekutukaan Tuhan).

Ketika Ki Samber Nyawa dikalahkan, maka pembukaan pemukiamn pun dimulai. Pemukiman tersebut diberinama padukuhan KALIPAGU yang mempunyai makna kali adalah aliran ( mengalir pada laku jantraning urip ), dengan pedoman krenreging manah ( kata hati ), dan pagu yang berarti penetapan. Jadi arti nama KALIPAGU adalah sebuah penetapan/ penetapan untuk senantiasa Tuhan Yang Maha Esa.

Padukuhan Kalipagu selanjutnya berkembang dan banyak disinggahi para pengelana, waliyullah maupun spiritualis dari berbagai penjuru daerah. Kemudian Mbah Kyai Kepras mulai mengajarkan agama islam kepada para penduduk maupun orang yang datang ke padukuhan Kalipagu. Hingga saat ini Kalipagu menjadi pemukiman yang makmur, tepatnya berada di Desa Ketenger, Kec. Baturraden, Kab. Banyumas, Jawa Tengah.


Note :
Cerita ini dibuat berdasarkan penelusuran sejarah dan penelusuran turun temurun oleh RT Sutarno Nursanjaya dan disusun oleh RT Kusponodipuro T.R

Share:

2 comments:

  1. hari demi hari,bulan demi bulan,tahun demi tahun,ahir nya terkuak juga sejarah grumbul kl pagu yg sy cintai...walaupun tdk semuanya terkuak paling tidak ada gambaran asal mulanya grumbul kali pagu ini,mari kita selalu jaga kenyamanan grumbul kt,mari kita selalu ingat sama tuhan yg maha esa biar masarakat grumbul kl pg,selu diberi keselamatan...amin

    ReplyDelete
  2. hari demi hari,bulan demi bulan,tahun demi tahun,ahir nya terkuak juga sejarah grumbul kl pagu yg sy cintai...walaupun tdk semuanya terkuak paling tidak ada gambaran asal mulanya grumbul kali pagu ini,mari kita selalu jaga kenyamanan grumbul kt,mari kita selalu ingat sama tuhan yg maha esa biar masarakat grumbul kl pg,selu diberi keselamatan...amin

    ReplyDelete

Ikuti Saya

Blog Archive